Update Facebook lewat komputer tampaknya akan semakin ditinggalkan. Akses internet dari ponsel belakangan ini terus meningkat. Terlebih situs-situs terkenal juga semakin nyaman diakses lewat ponsel.
Firma riset ComScore melaporkan jumlah pengakses internet lewat ponsel terus melonjak tajam. Untuk di AS saja, angkanya naik dua kali lipat jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Naiknya akses internet dari ponsel itu didukung akses ke situs jaringan sosial yang naik empat kali lipat. Sementara jumlah orang yang menggunakan ponsel untuk mengakses infomasi saham dan mengakses informasi keuangan juga melonjak tiga kali lipat.
Naiknya akses internet di ponsel itu juga didorong makin banyak vendor yang memasarkan smartphone dengan harga lebih terjangkau. Juniper Research memperkirakan smartphone akan mencapai 23% dari keseluruhan ponsel hingga akhir 2013.
Sementara firma riset lain melaporkan terus terjadinya tren penurunan harga smartphone. ISuppli memprediksikan pertumbuhan smartphone global akan mencapai 11% pada 2009.
Konten popular juga mendorong naiknya akses internet lewat ponsel. Upaya media besar semacam CNN dan Google yang membuat situsnya masuk di ponsel, memotivasi penggunaan ponsel untuk mengakses web.
Tren itu ternyata menarik pengiklan untuk terjun ke dalamnya. Pengiklan ingin mencari tempat yang lebih efektif untuk menjangkau lebih banyak konsumen dengan budget lebih kecil di saat resesi ekonomi seperti sekarang. Penelitian ComScore menunjukkan, iklan di ponsel berkesempatan lebih besar diklik konsumen dibandingkan iklan di komputer.
Bahkan iklan bisa diakses oleh user yang sulit dijangkau internet konvensional. Iklan itu juga untuk menjangkau orang yang jarang mengakses komputer dibandingkan ponsel.
Sementara Mobile Publicis Group melaporkan ada 30 negara dimana penetrasi ponselnya di atas 100%. India terjadi peningkatan 9 juta user tiap bulan. Begitu juga di China terjadi peningkatan yang luar biasa.
Tren penggunaan telepon genggam untuk mengakses internet diadopsi oleh industri Indonesia. Salah satunnya Citibank yang membuat situsnya nyaman untuk diakses menggunakan ponsel.
“Citibank memiliki situs web mini yang disebut Citi Mobile-Thin Client. Format dan tata letaknya telah disesuaikan dengan format layar telepon genggam, sementara isinya tetap sama dengan situs web yang ada saat ini,” kata Rudy Hamdani, Vice Presidente-Business Head Citibank NA.
Situs itu menyediakan informasi lengkap mengenai promosi kartu kredit, program merchant, serta informasi produk. Untuk bisa mengkases situs Citibank itu, ponsel harus dilengkapi fitur GPRS, EDGE atau 3G. Citi Mobile-Thin Client merupakan perkembangan termutakhir layanan mobile banking. Sebelumnya mobile banking bisa diakses melalui SMS Banking.
Namun SMS Banking memiliki kelemahan. Untuk mengakses layanan ini perlu mengingat kata-kata kunci. Agar lebih mudah, layanan SMS Banking ini disempurnakan dengan teknologi SIM Tool Kit yang membutuhkan simcard dan ponsel keluaran terbaru.
Rudy mengatakan, telepon selular pada saat ini rata-rata memiliki kemampuan menjelajah internet. Oleh sebab itu Citibank mulai masuk ke ponsel. “Operator juga memberikan layanan koneksi per Kbps yang lebih terjangkau dan yang paling penting adalah aksesnya lebih cepat,” jelasnya.
Tapi, kemungkinan booming akses internet lewat ponsel ini tidak menarik Bakrie Telecom. Pemilik layanan Esia itu akan tetap fokus menggarap komunikasi dasar yang sangat dibutuhkan masyarakat, yakni voice dan SMS.
“Esia untuk menengah ke bawah. Jadi konsumennya bukan yang menggunakan ponsel untuk mengakses internet,” kata Erik Meijer Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom.
Ia menambahkan, apa yang dicari konsumen di internet adalah informasi. Oleh karena itu Bakrie Telecom menyediakan informasi ini dalam bentuk lain, yaitu BREW (Binary Runtime Environment for Wireless). “Di BREW itu Esia memberikan content-content yang menarik pada pelanggan,” paparnya.
Esia tambah Erik juga tidak membundel ponsel berharga mahal dan mendukung internet pada layanan Esianya. Hal itu karena tidak akan sesuai dengan target market Bakrie Telecom. “Esia akan fokus pasar menengah ke bawah,” tegas Erik.
Budi Winoto – Inilah.com













